Pertumbuhan Ekonomi dan Model Pertumbuhan Ekonomi

Posted on

Pertanyaan untuk didiskusikan Pertumbuhan ekonomi pada bab ini adalah :

  • Apa yang membuat susatu perekonomian kaya?.
  • Bagaimana negara kaya dapat mempertahankan kinerjanya dan bagaimana negara miskin dapat meningkatkan kinerja agar serupa dengan negara kaya?.
  • Apa penyebab perbedaan pertumbuhan ekonomi antarnegara?.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab oleh Adam Smith, David Ricardo, Heckscher dan Ohlin, serta John Maynard Keynes.

Adam Smith menjelaskannya dengan konsep division of labor. Pembagian kerja ini akan menimbulkan spesialisasi. Spesialisasi memungkinkan individu lebih diuntungkan jika masing-masing melakukan produksi sesuai dengan bidang yang dikuasai dengan baik dan membeli apa yang dapat diproduksi orang lain secara lebih murah (positif sum game).

Smith sangat optimis terhadap prospek perekonomian di masa depan, sepanjang individu dan perusahaandapat berdagang secara bebas satu sama lain di dalam lingkup geografis yang seluas-luasnya (sepanjang biasya transportasi tidak melampaui keuntungan pedagang). Oleh karena itu, perdagangn intranegara dan antarnegara menjadi sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi. Permasalahan muncul ketika satu negara mempunyai dua keunggulan absolut atau bahkan tidak memiliki keunggulan absolut.

David Ricardo menjelaskan bahwa sekalipun suatu negara tidak memiliki keunggulan absolut, tetapi negara ini masih tetap memiliki manfaat dari perdagangan internasional. Keunggulan ini diperoleh dengan berkonsentrasi pada usaha terkecil untuk memproduksi suatu barang sehingga masing-masing negara akan memperoleh keunggulan komparatif yang lebih besar.

Ricardo menjelaskan bahwa keunggulan komparatif timbul dari perbedaan produktivitas negara kerja, tetapi tidak menjelaskan secara memuaskan mengapa produktivitas negara kerja antarnegara berbeda.

Heckscher dan Ohlin (H-O) menjelaskan bahwa keunggulan komparatif timbul perbedaan faktor endowments. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan faktor produksi (modal dan tenaga kerja) yang memiliki suatu suatu negara dan faktor yang digunakan untuk memproduksi oleh suatu negara (mungkin saja teknologi yang digunakan sama, tetapi metode produksinya berbeda). Artinya, jika suatu negara memiliki faktor produksi berlebih, maka biaya produksinya akan semakin rendah.

Oleh karena itu, perbedaan dalam faktor endowments dari berbagai negara dapat menjelaskan perbedaan faktor biaya yang mengakibatkan keunggulan komparatif yang berbeda. Model H-O ini dapat diperluas menjadi tiga teorema penting, yaitu:

  • (1) teorema persamaan harga faktor,
  • (2) teorema Stolper-Samuelson, dan
  • (3) teorema Rybcsynski.

Optimisme ini terhenti dengan prediksi Thomas Malthus yang menyebutkan: “populasi manusia akan tumbuh lebih cepat dariopada produksi makanan sehingga akan berujung pada kelaparan massal dan kematian”. Pada akhirnya, prediksi Malthus keliru karena ia tidak mempertimbangkan faktor teknologi yang memungkinkan penigkatan produksi pangan dan luas lahan yang sama den jumlah pekerja yang jauh lebih sedikit.

Dampak dari dikeluarkannya prediksi Malthus adalah minat ekonom untuk mendalami pertumbuhan ekonomi menutun hingga menjadi depresi besar di mana perekonomian tidak hanya berhenti tumbuh, tetapi juga mengalami kontraksi. Asumsi klasik menunjukan bahwa tingkat pengangguran yang tinggi dan terus meningkat akan mendorong upah turun hingga mencapai tingkat dimana akan kembali menguntungkan perusahaan untuk mulai menerima pekerja baru.

John Mynard Keynes menunjukan bahwa asumsi ini tidak berguna karena upah cenderung sulit bergerak turun (downword rigidity) dan minat perusahaan untuk memperkerjakan karyawan baru sangat kecil. Singkat kata, hasil diagnosis Keynes terhadap depresi menunjukan bahwa hal tersebut disebabkan oleh kurangnya permintaan terhadap barang dan jasa (semua orang menabung sehingga konsumsi turun) yang tidak dapat diperbaiki dalam waktu cepat hanya dengan menunggu upah dan harga turun.

Dari fakta empiris tersebut, lahirlah ilmu makro ekonomi. Pandangan ini merekomendasikan satu paket kebijakan ekonomi yang sederhana. Jika permintaan sektor swasta terlalu kecil, permintaan perlu melakukan langkah-langkah penyelamatan, baik melalui pemotongan pajak atau pengkatan belanja atau keduanya. Dengan kata lain, saat perekonomian lemah, pemerintah dapat membantu membangkitkan pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan deficit fiskal yang memengaruhi sisi permintaan.

Sebaliknya, bila pertumbuhan permintaan sektor swasta terlalu kuat hingga melampaui kapasitas perekonomian dalam memproduksi barang dan jasa sehinggas menyebabkan harga dan upah naik, maka pemerintah perlu menetapkan kebijakan fiskal yang lebih ketat melalui pajak yang lebih tinggi dan/atau pemotongan anggaran belanja pemerintah. Jika pemerintah ingin membantu usaha domestik, berikan insentif kepada aktivitas dan bukan kepada sektor.

Sebagai contoh, berikan potongan pajak untuk aktivitas pengembangan sumber daya manusia dan aktivitas litbang (peneliti dan pengembangan). Berikan insentif untuk mengadopsi teknologi dari luar untuk produk baru atau kebutuhan domestik. Hal yang perlu diingat adalah insentif harus memiliki batas waktu. Dalam sekian tahun, pelaku usaha harus menghasilkan. Jika gagal, insentif akan dikembalikan (Basri, 2011). Pola berfikir Keynes dapat dilihat dalam alur piker pada Gambar

Meskipun inflasi belum menjadi masalah di Amerika Serikat sampai dengan beberapa tahun sebelum Perang Dunia II, pemikiran Keynes telah mengantisipasi masalah ini

Inflasi memang merupakan dampak dari salah satu resep kebijakan yang diajukan oleh Keynes untuk mengeluarkan perekonomian dari resesi atau depresi. Sebagian besar teori pertumbuhan ekonomi ini menekankan pada sisi permintaan, yaitu pertumbuhan ekonomi atas barang dan jasa dari sektor swata dan pemerintah.

Model Pertumbuhan Ekonomi

Model pertumbuhan ekonomi dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu model pertumbuhan linier dan model pertumbuhan sirkuler (Cho dan Moon, 2003).

Model Pertumbuhan Ekonomi Linier

Dalil pada model pertumbuhan linier bergerak dari tahap ekstrim satu ke tahap ekstrim lainnya. Model yang diajukan oleh Adam Smith dimulai dari tahap primitif, tahap pengembalaan, tahap pertanian, hingga tahap perdagangan (Smith, 1971).

Wolt W. Restow mengembangkan model yang dimulai dari masyarakat tradisional, prakondisi untuk tinggal landas, tinggal landas, dorongan untuk menuju kedewasaan, hingga konsumsi tinggi secara massal (Restow, 1971). Untuk lebih memahami model-model pertumbuhan linier, berikut disajikan pembahasannya.

1. Model yang diajukan Adam Smith

Kemakmuran perekonomian sebuah negara merupakan konsekuensi alamiah dari spesialisasi dalam produksi melalui pembagian kerja dan perluasan perdagangan. Oleh karenanya, Smith percaya bahwa pertumbuhan sebuah negara akan terhenti pada saat terjadi kemacetan dan keterbatasan spesialisasi produksi. Smith menunjukan prinsip-prinsip dasar dan usul-usul pemerintah yang digolongkan menjadi empat tahap berdasarkan tahapan jenis sosial ekonomi mulai dari tahap primitive (perburuan), tahap penggembalaan, tahap pertanian, dan tahap perdagangan (komersial).

Tahap pertama adalah tahap primitive. Kehidupan dipertahankan melalui pengumpulan buah langsung dari tanah dan aktivitas dominannya adalah berburu dan memancing. Ini merupakan cara yang paling kasar dalam memperoleh kehidupan. Dalam tahap ini, komunitas dicirikan dengan perukuran kecil, tingkat kekayaan pribadi kecil Karena tidak ada properti pribadi secara nyata, kerap terjadi perselisihan, dan tidak ada sistem adminitrasi. Timbul suatu anggapan bahwa kemiskinan universal membangun keadilan universal.

READ  Pengertian Norma Kesusilaan dan Contoh

Tahap penggembalaan adalah suatu keadaan di mana masyarakat secara umum menggunakan ternak sebagai aktivitas perekonomiannya. Ukuran komunitas menjadi bertambah besar dari tahap sebelumnya, mulai berbentuk sistem administrasi terkait dengan kesesuaian ternak, serta properti dapat diakumulasi dab ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga memberikan hak yang besar bagi individu yang memilikinya. Akibatnya, mulai timbul pengusaha (pemilik ternak) dan bawahan (individu yang bekerja pada pemilik ternak).

Pada tahap pertanian, aktivitas produktif berubah dari ternak menjadi lahan. Sama dengan tahap pengembalaan, individu yang tidak memiliki usaha bertahan hidup hanya dengan mempertukarkan pelayanan pribadinya. Masyarakat pertanian bersifat menetap sehingga akan membentuk pemerintahan kota yang akan memberikan pembayaran “sewa tertentu” pasa raja. Perdagangan dan manufaktur kota mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap masyarakat.

Tahap terakhir adalah perdagangan, di mana barang dan jasa menentukan suatu harga. Hal yang paling signifikan dari tahap ini adalah perdagangan menjadi sumber kekayaan baru yang dapat didistribusikan secara lebih luas dari tahap sebelumnya. Sebagai hasil dari perubahan model pencarian sumber kehidupan, maka individu memperoleh kebebasan. Tahap perdagangan inilah yang memunculkan entreprencur. Artinya, untuk mencapai kemakmuran suatu bangsa, dibutuhkan banyak entreprencur untuk menggerakan roda perekonomian.

2. Model yang diajukan oleh Walt Whiltman Restow

Tahap pertumbuhan Restow didasarkan pada keyakinan bahwa kedaulatan negara adalah pemberi pengaruh utama bagi pertumbuhan perekonomian nasional. Setiap masyarakat berjalan melalui lima tahapan mulai dari masyarakat tradisional, prakondisi untuk tinggal landas, tinggal landas, dorongan menuju kedewasaan, dan era konsumsi tinggi secara massal.

Masyarakat tradisional (tradisional society) merujuk pada masyarakat pra Newton di mana ornag bergantung pada cara produksi tradisional. Mereka tidak mebcoba ilmu-ilmu baru yang mulai berkembang. Fakta utama dari masyarakat tradisional adalah batas atas tingkat output. Tidak ada ilmu modern dan teknologi yang diterapkan secara sistematis untuk meningkatkan autput. Dalam masyarakat ini, mereka percaya bahwa masa lalu, saat ini, dan masa yang akan datang tidak memiliki perbedaan.

Pada tahap prakondisi untuk tinggal landas ( prekonditions for take-off ), muncullah kepemimpinan yang kuat dari pemerintah pusat yang membuat potensi individu pertumbuhan dengan baik. Perusahaan baru muncul dan mereka memobilisasi tabungan untuk melakukan investasi dalam venture baru yang dicirikan olrh risiko tinggi, tetapi memberika return yang tinggi pula. Ilmu modern mulai diterjemahkan menjadi alat produksi baru dalam bidang pertanian dan industri. Walaupun masyarakat pada tahap ini telah mengalami perbaikan, tetapi tingkat produktivitasnya masih rendah serta masih menganut struktur dan nilai-nilai sosial lama.

Pada tahap tinggal landas (the take-off), seluruh masyarakat telah siap untuk membuat suatu loncatan kea rah industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi. Wilayah kota semakin luas, komposisi industry sebuah negara berubah secara radikal menuju sektor industry yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, dan terjadi perubahan struktur sosial dan politik. Selama tahap tinggal landas, industry baru tumbuh dengan cepat dan menghasilkan laba yang lebih besar. Proporsi terbesar dari laba diinvestasikan kembali pada pembukaan atau pembangunan pabrik baru. Pabrik barui ini akan merangsang pertumbuhan sektor lainnya. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi didorong oleh aktivitas eksploitasi sumber daya dan penemuan metode produksi baru.

Tahap ke empat adalah tahap kedewasaan (the drive to maturity). Ciri tahap ini adalh industry dan teknologi baru bermunculan serta produktivitas meningkat. Sekitar 10-20% pendapatan nasional diinvestasikan secara tetap yang memungkinkan output secara reguler melampaui peningkatan populasi. Perbaikan perekonomian berubah seiring dengan perbaikan teknik, akselerasi industry baru, dan matinya industry yang lebih lama.

Tahap akhir adalah konsumsi tinggi secara massal, di mana masyarakat mendapat manfaat dari perekonomian yang telah maju. Produk dan jasa yang beragam dan berkualitas tinggi telah tersedia. Sektor produksi beralih kepada barang dan jasa konsumsi yang lebih tahan lama. Masyarakat lebih tertarik pada kesejahteran dan keamanan perekonomian daripada pertumbuhan perekonomian yang sederhana. Melalu proses politik, masyarakat memilih untuk mengalokasikan sumber daya yang lebih besar pada kesejahteraan sosial dan keamanan.

Menurut Restow, agar negara dunia ketiga dapat mencapai kemajuan, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan.

  • Pertama, revolusi di bidang sosial, politik, dan inovasi teknologi.
  • Kedua, pengerahan sumber daya alam yang mampu mencapai tingkat investasi produktif sebesar 10% dari pendapatan nasionalnya.
  • Ketiga, adanya pertumbuhan jumlah unit industri terpusat.

Mengenai masalah keterbatasan sumber daya modal bagi negara dunia ke tiga, Restow mengemukakan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencapai tahap tertinggi.

  • Pertama,pemindahan sumber dana, misalnya dengan pajak.
  • Kedua, menggali investasi yang berasal dari lembaga-lembaga keuangan.
  • Ketiga, melakukan perdagangan internasional.
  • Keempat, perlu ada investor asing yang menanamkan modalnya pada sektor tertentu.

3. Model yang diajukan oleh Alvin Toffler

Toffler menggunakan sumber kekuatan produksi untuk membagi sejarah manusia menjadi empat tahap, yaitu: era nomaden, era pertanian, era industrialisasi, dan era informasi. Pada era nomaden, sumber produksi adalah tenaga manusia (raw human power).  Selanjutnya, dengan mengamati cuaca yang berulang setiap 365 hari, masyarakat menemukan cara bercocok tanam. Dalam era ini, lahan menggantikan tenaga manusia sebagai sumber produksi yang paling kritis. Lahan dijadikan sebagai pusat aktivitas ekonomi.

Gelombang ketiga yang terjadi pada pertengahan abad ke-18 memungkinkan masyarakat untuk membuat lompatan raksasa dalam produktivitas melalui industrialisasi. Kekayaan dalam gelombang pertama berupa tenaga kerja; gelombang ke dua berupa lahan, tenaga kerja, dan modal; sedangkan pada gelombang ketiga, modal dijadikan faktor produksi kunci menggantikan lahan. Uang diinvestasikan dalam sistem perekonomian sebagai modal bagi perusahaan. Kedudukan uang menggantikan kedudukan manor (lahan milik raja) sebagai lembaga perekonomian terpenting.

Gelombang keempat semakin jelas pengaruhnya terhadap kehidupan manusia sejalan dengan perkembangannya teknologi computer dan telekomunikasi. Perbedaan fisik dan waktu antarbangsa menjadi sangat berkurang. Perekonomian baru diseimbangkan untuk memperkirakan dunia masa depan yang tidak selalu di batasi oleh keterbatasan sumber daya.

Gagasan yang baik dapat berasal dari segala tempat dan setiap orang. Konsumen tidak lagi merupakan pasar pasif di mana perusahaan menjual barang yang terstandardisasi. Saat ini, konsumen merupakan bagian dari proses keseluruhan di mana mereka mampu merancang barang dan jasa dari imajinasi mereka sendiri. Pada tahap ini, terdapat permintaan yang lebih besar untuk kebebasan dan individualism.

READ  Pengertian Kapitalisme, Bentuk Perekonomian Kapitalisme dan Contoh

Kesimpulan dari model pertumbuhan linier didapat dengan menghubungkan ketiga model pertumbuhan tersebut. Terliat bahwa model pertumbuhan masyarakat versi Rostow sebagai kelanjutan masyarakat model Smith. Smith membahas masyarakat mulai dari masyarakat primitif hingga berhenti pada masyarakat pedagang. Pertanyaannya adalah apa yang akan terjadi dengan akumulasi kekayaan hasil berdagang? Rostow menjawabnya dengan perubahan masyarakat menjadi masyarakat industri dari industri sederhana hingga industri yang memiliki nilai tambah.

Pertumbuhan industri ini secara jelas digambarkan oleh Toffler mulai dari industry berbasis pertanian, teknologi, hingga akhirnya berbasis informasi. Kemajuan sektor industri mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan kesejahteraan dan keamanan daripada hanya pertumbuhan ekonomi. Konsumen ingin lebih bebas dan individual sehingga mereka pun menjadi lebih terlibat dalam merancang barang dan jasa. Tampak bahwa jumlah entrepreneur meningkat sejak bertumbuhnya masyarakat pedagang hingga saat ini.

Model Pertumbuhan Ekonomi Sirkuler

Model tahap sirkuler mendalilkan bahwa sejarah manusia berasal dari sebuah titik asal tertentu atau situasi tertentu dan berjalan melalui serangkaian tahapan yang berbeda sebelum bergerak menuju tahap akhir. Model tahap sirkuler menunjukan bahwa tahap akhir sama dengan titik awal atau cenderung berhubungan dengan tahap tertentu di dalam model tersebut.

Dalam hal ini, model tahap sirkuler menunjukan bahwa sejarah mengulang dirin ya sendiri dan berjalan melalui proses evolusioner yang berbentuk pegas dalam jangka panjang. Model yang merupakan bagian dari golongan ini adalah model rangcangan Karl Marx, yaitu komunisme primitive menuju komunisme utopis (Marx, 1962) dan model rancangan Michael Porter yang terdiri dari model tahap factor driven menuju tahap wealth driven (Portten, 1990).

1. Model Rancangan Karl Marx

Marx sepakat dengan teori pertumbuhan klasik yang mendalilkan pentingnya peluasan pasar untuk pertumbuhan perekonomian suatu negara. Meskipun demikian, apa yang di sepakati bukanla hokum universal dari mekanisme pasar. Sebaliknya, Marx mempertimbangkan pentingnya mekanisme pasar yang hanya dapat ditetapkan pada suatu tahap tertentu dari sejarah manusia, yaitu tahap kapitalisme. Ia sangat percaya pada evolusi sejarah manusia.

Sejalan dengan itu, Marx berfikir mengenai kapitalisme sebagai salah satu dari tahap yang tidak dapat dihindari dan harus dihadapi oleh umat manusia setelah feudalism, tetapi sebelum sosialisme. Secara alamiah, Marx berpendapat bahwa mekanisme pasar akan berlaku hanya di bawah kapitalisme.

Marx  mengembangkan paradigma yang sangat sistematis dan persuasif sebagai usaha untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam priode yang tidak permanen dari satu tahap ke tahap lain. Dengan kata lain, sejarah manusia tidak berarti apa-apa kecuali merupakan serangkaian konflik antara kekuatan produksi dan struktur produksi.

Sejarah tersebut akan tumbuh secara teratur di tengah pertentangan-pertentangan hegemoni. Kekuatan produksi adalah jumlah waktu yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa pada suatu waktu tertentu. Struktur produksi adalah bagaimana waktu tersebut digunakan untuk memproduksi output yang berwujud fisik.

Mark menerapkan logikanya pada efolusi historis ras manusia. Pengamatanya kepada sejarah manusia berawal dari komunisame primitif. Pada saat itu, individu akan membentuk suatu suku dan pengembara. Biasanya pada saat cuaca baik, mereka akan mengumpulkan buah-buahan. Pada saat mereka menemukan binatang, mereka akan membentuk sebuah lingkaran untuk mengelilingi binatang buruan.

Lingkaran tersebut terus mengecil hingga binatang tersebut tidak dapat lolos. Mereka tidak memiliki alat yang tepat untuk membunuh binatang tersebut hingga mereka mengalami kesulitan yang luar biasa dalam menangkap binatang tersebut. Beberapa menggunakan tongkat untuk mengganggu si binatang. Sementara yang lain menusuk dan melempari binatang dengan batu dan perabotan lainnya.

Bahkan, beberapa anggota suku dapat terbunuh dalam perburuan. Sedemikian sulitnya mereka hidup dalam lingkungan yang keras hingga mereka harus membentuk tim yang memungkinkan mereka melakukan produksi, memiliki, dan mengonsumsinya secara bersama-sama. Jadi, produksi bersama-sama atau komunisme adalah bentuk struktur produksi paling umum yang dapat dipahami ras manusia.

Meskipun demikin, bentuk primitif dari komunisme ini tidak cukup efisien untuk menghasilkan lebih dari apa yang dapat dikonsumsi seorang individu tanpa surplus produksi. Komunisme dalam tahap awal tidak memungkinkan siapa pun untuk berjauhan dari struktur produksi tersebut.

Komunitas masyarakat primitif merupakan komunitas yang mengakui kepemilikan pribadi sebagai kepemilikan komunitas dan pembagian kerja yang sangat sedikit. Pada masa ini, tidak ada kepemilikan pribadi. Kepemilikan pribadi berarti kepemillikan komunitas. Millikku adalah milikmu.

Tahap berikutnya dari komunisme primitive disebut komunal purba. Manusia mulai menggunakan alat dan perangkat seperti tombak dan pissau batu. Perburuan dengan menggunakan alat tersebut memungkinkan mereka memperoleh surplus dari struktur produksi tersebut. Manusia mulai memproduksi lebih banyak daripada yang mereka dapat produksi. Selanjutnya, surplus ini disimpan untuk menghadapi ketidakpastian masa depan. Bahkan beberapa suku mulai menemukan cara produksi yang lebih baik.

Bagi suku yang tidak mau bekerja keras dan menghadapi risiko yang besar dengan mengorbankan nyawa anggota sukunya, mereka menyerang suku tetangga yang memiliki surplus barang dengan cara merampok dan memperbudak mereka. Para budak dipekerjakan selama mereka mampu menghasilkan lebih banyak dari yang mereka konsumsi. Para tuan akan menikmati surplus sebagai buah dari struktur produksi yang baru saja dibentuk, yaitu sistem perbudakan. Pada tahap ini, komunitas ditandai dengan bentuknya yang lebih besar daripada kominitas primitif dan sistem pembagian kerja yang semakin tinggi. Kepemilikan pribadi sudah mulai diakui.

Pada tahap selanjutnya, sistem perbudakan akan berubah menjadi foedalisme pada saat para tuan tidak mampu menangani dan mengendalikan para budak. Pada tahap awal foedalisme, para tuan akan menjadi raja. Mereka akan mendistribusikan budak dan lahan di antara para jendral yang mempunyai konstribusi besar terhadap kekayaan raja. Oleh karenanya, raja beralih fungsi menjadi bangsawan foedal.

Para budak beralih menjadi hamba (pelayan) dan “penyewa” lahan dari para tuan. Meskipun tampaknya status budak membaik, tetapi hubungan eksploitatif antara “yang memiliki” dan “yang tidak memiliki” atau antara “kelas berjuis” dan “kelas proletar” tetap berlanjut. Sebagai contoh, surplus produksi akan diambil oleh orang yang berkuasa dan mereka akan mengakumulasikan kekayaannya secara terus-menerus melalui proses tersebut.

Bersamaan dengan timbulnya bentuk produksi baru melalui pembangunan pabrik, maka kota yang memiliki banyak pabrik akan memikat “budak” dan “penyewa” karena kota berada jauh lahan yang dimiliki oleh foedal. Lahan yang dimiliki kaum foedal harus memberikan jalan pada struktur produksi baru yang dapat menyerap kumpulan tenaga kerja dalam jumlah besar.

READ  Pengertian Brainware, Fungsi, Komponen, Jenis dan Contohnya

Ketika mereka masuk ke kota, mereka hanya menemukan perusahaan sebagai usaha dasar untuk hidup dengan menukarkan tenaganya. Dengan demikian, surplus produksi pindah ke tangan kapitalis sehingga terjadi ‘ledakan’ kaum kapitalis.

Marx secara keras mengkritik struktur kapitalistis untuk “kontradiksi” inherennya di mana eksploitasi tenaga manusia masih terjadi. Ia berpendapat bahwa perusahaan yang merupakan pemain utama dalam kapitalisme didominasi oleh para manajer yang hanya tertarik melakukan eksploitasi terhadap para pekerja.

Namun para pekerja merupakan unsur pokok terpenting dari pasar. Kekuatan mereka yang melemah akan mengakibatkan runtuhnya sistem pasar. Dengan berspekulasi atas fenomena ini, Marx berpendapat bahwa lambat laun masyarakat yang kapitalistis akan jatuh.

Menurut Marx, struktur produksi yang baru akan mampu menggantikan prilaku oportunistik para manajer dalam era kapitalistis dengan perencanaan yang lebih baik dan berorientasi keadilan. Ia memandang sosialisme sebagai alat untuk melaksanakan struktur produksi melalui suatu lembaga yang dimiliki oleh negara.

Lambat laun, sosialisme akan menjadi struktur produksi komunistis di mana semua orang akan memiliki dan berbagi kekayaan negara dan struktur produksi di seluruh partai komunis dan para pemimpin elitenya. Tujuan akhir yang akan dicapai adalah restorasi komunisme primitif dengan tingkat konsumsi yang lebih tinggi sehingga semua orang akan dibebaskan dari dunia keterbatasan materialistis. Ia menyebut keadaan ini sebagai komunisme utopis.

Marx menunjukan evolusi sejarah manusia melalui perspektifnya sendiri, mulai dari komunisme primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme, sosialisme, dan terakhir komunisme utopis. Menurut Marx, pada awaknya masyarakat akan tersesat melalui serangkaian alternative eksploitatif seperti perbudakan, feodalisme, dan kapitalisme. Namun pada akhirnya, mereka akan merestorasi keseimbangannya dengan kembali kepada komunisme utopis.

2. Model Rancangan Michael Porter

Teori pertama porter adalah model diamond yang digunakan untuk menjelaskan mengapa suatu negara memperoleh keunggulan kompetitif. Model ini menjelaskan bahwa daya saing suatu negara ditentukan oleh: (1) kondisi faktor seperti tenaga kerja terampil, (2) kondisi permintaan, (3) industri terkait den industry pendukung, serta (4) strategi perusahaan, struktur, dan pesaingan.

Selain model diamond, porter memperkenalkan model tahap baru. Model ini memberikan beberapa pemikiran mengenai bagaiman perekonomian nasional mengalami kemajuan dalam konteks kompetitif. Setiap tahap melibatkan industri dan segmen industri yang berbeda. Model Porter mempunyai empat tahap pembangunan kompetitif nasional mulai dari factor driven, investment driven, innovation driven, dan wealth driven.

Pada tahap factor driven, keunggulan kompetitif internasional suatu negara diperoleh sepenuhnya dari faktor produksi dasar seoerti sumber daya alam, kondisi pertumbuhan ekonomi yang mendukung hasil tertentu, atau kumpulan tenaga kerja semi-terampil yang melimpah dan murah. Merujuk pada model diamond, factor driven, hanya bertunpu pada salah satu atribut saja, yaitu kondisi faktor. Pada kondisi seperti ini, pesaingan pada perusahaan nasional hanya mengandalkan harga dan memerlukan sedikit sentuhan teknologi dan proses. Hamper semua negara berkembang dan  negara dengan sistem perekonomian berpusat berada pada tahap ini.

Tahap investment driven menunjukan bahwa keunggulan suatu negara ditentukan oleh kemampuannya untuk melakukan investasi dan bukan oleh kemampuan untuk menawarkan produk yang unik. Dalam tahap ini, terjadi perbaikan atribut dari model diamond. Peningkatan atribut dilakukan melalui perbaikan infrastruktur. Permintaan negara asal tidaklah kompleks, tetapi bertumbuh.

Mulai ada persaingan antarindustri. Meskipun demikian, industry terkait dan pendukungnya tidak berkembang pada tahap ini. Negara yag mencapai tahap ini atau yang memiliki tanda-tanda memasuki tahap ini adalah Jepang, Taiwan, Singapura, Tionh Kong, Spanyol, dan Brasil. Meskipun demikian, perusahaan-perusahaan nasional masih memiliki kekurangan elemen penting, yaitu kemampuan untuk memperbaiki produk dan teknologi proses serta saluran pemasaran internasional.

Pada tahap inovasi, semua atribut dalam model diamond bekerja dengan baik. Keunggulan negara yang berada pada tahap ini terletak pada kemampuannya untuk menciptakan teknologi. Pada tahap ini, lemahnya kondisi faktor merangsang inovasi untuk memperbaiki terknologi proses agar produk yang dihasilkan meningkat.

Permintaan konsumen menjadi semakin bervariasi karena meningkatkan pendapatan, pendidikan yang lebih tinggi, dan peran persaingan yang domestik yang lebih kompetitif. Industri terkait dan pendukung kelas dunia semakin berkembang dalam kelompok yang penting. Perusahaan bersaing dengan strategi global, jaringan kerja pemasaran dan pelayanan internasional sendiri, dan memiliki merek yang mempunyai reputasi baik di luar negeri. Terdapat pila investasi langsung ke luar negeri dalam nilai yang signifikan.

Terakhir dalam tahap wealth driven, yaitu tahap menuju penurunan. Dalam tahap ini, negara mulai kehilangan keunggulan kompetitif dalam semua atribut model dismond. Keunggulan faktor tidak berasal dari tahap inovasi, tetapi dari tahap-tahap terdahulu seperti kesetiaan merek.

Pendapatan negara mulai ketingggalan dari negara maju lainnya sehingga mengurangi kualitas dan pertumbuhan permintaan dalam negeri. Industry dicirikan dengan penurunan motivasi dan persaingan karena lebih banyak perhatian diberikan pada upaya mempertahankan daripada meningkatkan posisi kompetitif.

Pada tahap ini, perusahaan asing yang memiliki keunggulan kompetitif sesungguhnya mulai mengakuisisi perusahaan negara tersebut dan menyatukannya ke dalam strategi global dengan home base di tempat lain. Investasi diluar batas wilayah masih besar jumlahnya karena tidak terpengaruh persoalan di dalam negeri. Meskipun demikian, sifat investasi asing berubah dari transfer teknologi menjadi investasi keuangan secara murni.

Model pertumbuhan sirkuler dari Makx dan Porter memiliki sifat yang cukup berbeda. Melalui model sirkulernya, Marx berpendapat bahwa sejarah manusia datang membuat lingkaran besar menuju dunia komunisme utopis di mana tidak ada orang yang mengambil keungtungan dari orang lain.

Di sisi lain, Porter berpendapat bahwa tahap wealth driven bukanlah tujuan akhir dan juga bukan tahap yang paling diinginkan. Sebaliknya, Poter menyatakan bahwa tahap wealth driven adalah permulaan dari penurunan kompetitif sebuah negara. Negara yang memasuki tahap ini seharusnya memepersiapkan diri untuk kembali pada tahap-tahap factor driven, investment driven, atau innovation driven menurut keadaan khusus masing-masing negara dan siap melompat untuk mulai periode pembangunan baru.

Model sirkuler memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan model linier dalam menjelaskan tahap masa depan melampaui tahap akhir yang diterangkan dalam masing-masing model tersebut. Khususnya, model Porter dapat digunakan untuk memahami mengapa dan bagaimana negara yang pernah maju seperti Inggris menarik daripada status perekonomian yang menurun sebelum muncul sebagai kekeuatan global baru dengan kebijakan investment driven-nya.

Baca Juga :